Selasa, 14 November 2017


Nama               : Renny Sulistyowati
Kelas               : 1 B
Jurusan            : Perbankan Syariah
Mata Kuliah    : Sejarah Peradaban Islam


NARASI RESET MASJID WISANGGENI
Mulyosari RT 02/ RW 03, Trangsan, Gatak, Sukoharjo
“Seorang Camdikia Pendiri Masjid”



PENDAHULUAN

Pada tanggal 22 Oktober 2017, penulis datang ke masjid untuk observasi dan mencari informasi mengenai cikal bakal berdirinya dan berbagai hal mengenai masjid tersebut. Penulis datang ke Masjid Wisanggeni yang beralamatkan di Desa Mulyosari RT 02/ RW 03 Trangsan, Gatak, Sukoharjo tepatnya di seberang Desa penulis. Penulis memilih masjid di seberang desanya karena menurut penulis masjid tersebut memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh masjid masjid yang lain. Hal ini membuat daya tarik si penulis untuk melakukan observasi dan mencari informasi mengenai cikal bakal berdirinya dan berbagai hal mengenai masjid tersebut. Keunikan yang menjadi daya tarik penulis untuk melakukan observasi terdapat pada cikal bakal berdirinya masjid tersebut.
Setelah sampai di Masjid Wisanggeni penulis menemui salah satu ta’mir yang ada di Masjid tersebut.  Beliau sangat ramah dan menyambut kedatangan penulis dengan tangan terbuka. Beliau bernama Bapak Sumadi. Penulis melakukan wawancara dengan Bapak Sumadi karena beliau sebagai ta’mir di Masjid Wisanggeni, beliau juga menjabat sebagai ketua RW 03 di Desa Mulyosari, dimana disana adalah tempat berdirinya Masjid Wisanggeni tersebut.
Bapak Sumadi adalah orang yang ramah, suka berbagi dan sangat di segani bahkan di sukai oleh banyak warga Desa Mulyosari. Terlihat ketika penulis mewawancarai beliau, beliau membawakan rambutan hasil panen dari tanaman depan rumahnya. Beliau mempunyai anak perempuan semata wayang dan satu cucu. Suami dari anak perempuanya sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu. Beliau tinggal bersama dengan istri, anak dan cucunya di desa Mulyosari RT 02 RW 03, Trangsan, Gatak, Sukoharjo


.
PEMBAHASAN
  
v  Gambaran Umum Masjid Wisanggeni

Masjid Wisanggeni terletak di Desa Mulyosari RT 02/ RW 03 Trangsan, Gatak, Sukoharjo. Masjid ini letaknya sangat strategis terletak di pinggir jalan raya. Jadi, untuk para pengendara kendaraan yang mau istirahat karena ngantuk bisa di Masjid Wisanggeni sekalian beribadah. Luas tanah Masjid Wisanggeni secara pastinya Penulis dan Bapak Sumadi kurang tahu, karena Masjid tersebut satu pekarangan dengan rumah sang pendiri. Luas bangunan Masjid Wisanggeni sebesar 200 M. Masjid Wisanggeni di cat dengan warna cream dan di tambah cat warna hijau di bagian ruang dalamnya. Bentuk bangunan masjid ini kotak dengan kubah cukup besar, lantai keramik warna cokelat kayu dan lampu masjid di ruang utama modelnya lampu gantung yang banyak pernak perniknya. Hal ini yang memberi kesan masjid begitu mewah.
Masjid ini berlantai dua, lantai pertama biasanya yang sering dipakai untuk sholat jamaah, jika lantai pertama penuh biasanya sampai ke lantai dua. Di masjid ini ada dua kamar mandi untuk perempuan sendiri dan laki laki sendiri. Demi kenyamanan jamaah Masjid Wisanggeni ini mempunyai beberapa fasilitas penunjang seperti  kipas angin dan AC. Kipas angin yang besar ada empat berada di sisi sisi ruangan masjid dan AC nya juga ada empat, lantai atas dan lantai bawah ada. Mukenanya juga banyak bagi para wanita yang enggak membawa mukena, boleh pinjam di Masjid. Bagi laki laki yang lupa tidak membawa sarung bisa meminjam di masjid. Tikarnya juga banyak ada sekitar empat puluhan tikar di masjid ini. Sajadah juga sudah di siapkan oleh pihak masjid. Di masjid ini menyediakan sekitar enam puluhan Al Quran bagi para jamaah yang ingin membaca sesudah sholat atau yang lainnya. Di samping masjid terdapat rumah joglo, rumah ini biasanya di di gunakan sebagai tempat pertemuan.



v  Kondisi Masjid dan lingkungan di sekitar masjid Wisanggeni

Keadaan Masjid Wisanggeni sampai saat ini terlihat bagus, lantai keramiknya bersih, masih kokoh bangunannya, tidak ada tanda tanda bangunan rapuh, warna catnya juga masih bagus dan nyaman untuk beribadah. Dulu masyarakat di sekitar Masjid Wisanggeni banyak orang orang awam, yang sholatnya masih kadang kadang, lalu setelah didirikannya masjid ini sekarang masyarakat di sekitar masjid banyak yang beribadah. Subuh itu sampai tujuh shof jamaahnya. Satu shofnya itu bisa sampai kurang lebih tujuh belas orang. Biasanya wanita tiga shof dan laki laki empat shof kalau subuh. Pada hari jumat ada sekitar empat ratusan lebih jamaah. Kendaraan dan mobil mobil banyak sekali yang datang untuk sholat berjamaah di masjid ini. Lantai atas dan bawah semua terisi sampai depan masjid ini penuh.



v  Sejarah Pendirian Masjid Wisanggeni

Masjid ini diberi nama Masjid Wisanggeni oleh pendirinya. Beliau bernama Pak Pur. Nama lengkapnya adalah Hadi Purnomo Wisanggeni. Kata Wisanggeni didapatkan Pak Pur ketika pergi ke Arab Saudia untuk menjalankan salah satu perintah Allah SWT yaitu umroh. Pak Pur diberi keterangan tenttang Wasiun Ghoniun. Wasiun Ghoniun yang artinya “Sing sugeh tur berbudi bawasana”. Hal itu yang membuat Pak Pur memberi nama Masjid Wisanggeni yang mempunyai arti sangat bagus. Tak disangka ternyata Pak Pur dulunya adalah seorang camdikia yang kaya raya. Tapi waktu Pak Pur mendirikan Masjid ini sudah bersih. Maksudnya harta harta yang di hasilkan dari camdikia itu sudah habis. Sekarang Pak Pur prihatinnya luar biasa maksudnya dia melakukan perintah Allah SWT yang hukumnya sunnah. Padahal di era sekarang sangatlah susah bagi seseorang untuk melakukannya tidak sembarang orang bisa melaksanakan perintah sunnah apalagi Pak Pur yang latar belakangnya adalah seorang Camdikia. Dengan niat lillahita’ala perintah sunnah yang dilakukan Pak Pur sama sekali tidak membebani malahan semua itu menyenangkan dan bermanfaat baginya. Di sisi rohani dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan di sis kesehatan pun dapat. Pak Pur puasa satu tahun penuh, puasa senin kamis. Pak Pur juga melakukan wiridan dan dzikir dari jam dua sampai setengah empat pagi. Masjid ini berdiri pada pertengahan bulan puasa pada tahun 2015. Dana yang di keluarkan Pak Pur untuk mendirikan Masjid ini kurang lebih satu milyar. Pak Pur mengundang Gubernur Jawa  tengah untuk mengesahkan masjidnya dan mengundang Habib syech untuk mengisi pengajian. Jadi recananya hari itu adalah pengesahan dan pengajian. Sebenarnya Masjid di sahkan oleh gubernur jawa tengah tetapi beliau tidak dapat hadir karena beliau di panggil ke Jakarta oleh Pak Presiden. Kemudian di ganti oleh Habib Syech karena pada saat itu beliau juga mengisi pengajian di Masjid tersebut.



v  Tanggapan Masyarakat di Sekitar Masjid Wisanggeni

Tanggapan masyarakat di sekitar masjid sangat senang, masyarakat lebih maju. Warganya setiap selapan dina sekali sehabis minggu pon mendapat beras dari Pak Pur. Setiap bulannya mendapat beras empat kilogram yang sudah di data oleh beliau. Setiap subuh juga mendapat beras bagi yang datang ke masjid ini.
Intinya semenjak didirikannya Masjid, masyarakat di sekitar masjid menjadi lebih rajin ibadahnya. Di sisi ekonomi, masyarakat semakin maju karena setiap hari tertentu Pak Pur membagi bagikan beras bagi masyarakat yang kurang mampu. Dan ketika ada masyarakat di sekitar masjid sakit ada santunan dari masjid tersebut. Santunan itu dari kotak amal di Masjid Wisanggeni.



v  Pendapat Penulis

Dari penjelasan di atas menurut Penulis seseorang itu dapat berubah menjadi lebih baik dan tidak ada kata sia sia atau terlambat bagi sesorang yang ingin menjadi lebih baik. Allah maha pengasih dan penyayang bagi umatnya yang benar benar ingin menjadi lebih baik. Semua itu tergantung pada individu, bagaimana niatnya, Komitmennya untuk tidak kembali lagi ke masa lalu, motivasi dirinya sendiri, serta memberi hadiah kepada diri sendiri ketika dapat melakukan hal yang baik sekecil apapun itu.



v  Kegiatan di Masjid Wisanggeni

Setiap hari jumat masjid ini selalu banyak jamaahnya sampai pengurus masjid menyediakan tikar di pelantaran depan masjid sekitar empat ratusan jamaah jumat yang ada di setiap jumatnya. Pak Pur juga menyediakan makanan dan minuman bagi jamaah jumat anggarannya sekitar dua juta ribu rupiah setiap jumatnya.
Setiap sore hari biasanya masjid ini di gunakan untuk kegiatan TPA bagi anak anak di desa sekitar masjid dan di buka untuk umum. Kegiatan TPA ini di lakukan seetiap hari mulai dari jam lima sore hingga jam tujuh ba’da isya’. Mengjelang magrib anak anak biasnya ngaji terlebih dahulu sambil menunggu adzan magrib. Jika sudah adzan magrib anak anak sholat magrib berjamaah di masjid tersebut. Setalah sholat magrib di lanjutkan ngaji lagi sampai adzan isya’.  Setelah adzan isya’ anak anak sebelum pulang sholat isya’ jamaah terlebih dahulu. Pak Pur juga memberikan uang bagi setiap anak yang TPA di masjid ini. Setiap anaknya diberi lima ribu rupiah, selain mendapatkan ilmu agama anak anak juga mendapatkan uang. Tujuan Pak Pur memberikan uang kepada anak anak yang TPA agar lebih semangat lagi belajarnya.
Selain itu masjid ini juga ada pengajian rutin, Pak Pur biasanya menyewa dua puluh sepur kelinci untuk di kirimkan ke desa desa bagi orang orang yang ingin pengajian di Masjid Wisanggeni tanpa di pungut biaya alias gratis. Pengajian ini bersifat umum bagi siapa saja, tidak memandang aliran muhammadiyah, NU, MTA, LDII dan lain sebagainya. Karena menurut Pak Pur semua agama islam itu sama, yang dibaca juga Al Quran, sama sama juga menyembah Allah SWT.



v  Memperjelas Pemahaman

Untuk memperjelas pemahaman penulis memberikan contoh seperti besi yang jatuh di genangan air. Jika tidak cepat cepat di ambil maka besi itu akan menjadi berkarat dan semakin berkarat. Tetapi jika langsung diambil tanpa memperdulikan besi tersebut bagaimana jadinya ke depan maka akan lebih baik. Maksudnya jika mengambilnya dan merawatnya walaupun sudah berkarat, karatan itu akan dapat hilang.



v  Refleksi

Dari hasil observasi yang di lakukan penulis menemukan sejarah berdirinya masjid yang berbeda dengan masjid masjid yang lain. Penulis mengambil sejarah berdirinya masjid ini sebagai keunikan karena sejarah berdirinya berhubungan dengan islamiyah. Setiap masjid mempunyai sejarah tersendiri dan ciri khas yang tudak di miliki oleh masjid lain.



v  Penutup

Alhamdulillah penulis ucapkan karena semua hal yang unik dan menarik di Masjid Wisanggeni ini telah di bahas di rangkuman di atas. Penulis hanya ingin mengingatkan bahwa menilai seseorang itu jangan dari masa lalunya. Karena di masa sekarang seseorang itu sudah berubah. Dan jangan perpikiran bahwa latar belakang seseorang itu mempengaruhi semuanya. Dan mengolok ngolok kejadian atau kesalah seseorang di masa lalu. Karena kita tidak pernah tahu mengapa seseorang melakukan kesalahan itu.
Jadi berpikirlah positif saja, selagi itu baik dan tidak melangagar perintah Allah SWT dukunglah dan genggam tangan seseorang itu agar lebih yakin bahwa seseoranmg itu bisa dan belum terlambut untuk menjadi lebih baik. Jangan malah kita olok olok itu akan membuat seseorang itu menjadi jadi karena seseorang iu merasa tidak di hargai. Maka hargailah tindakan seseorang yanng baik sekecil apapun itu. Dan jangan terlalu fokus ke kesalahan masa lalu da tidak kata terlambat. Contohnya seperti Pak Pur. Beliau dulunya adalah seorang candikiawan tetapi tidak di sangka dengan niat lillahita’ala ingin berubah menjadi lebih baik kini beliau berhasil dan bahkan beliau mendirikan Masjid Wisanggeni yang terletak di Desa Mulyosari RT 02 RW 03 Trangsan, Gatak, Sukoharjo.
Pesan dari penulis, bagi para penghijrah tetap semangat, jangan putus asa dan jangan di masukan ke hati omongan omongan orang orang yanga ada di sekitar kalian. Karena mereka belum tentu baik di banding orang yang mereka olok olok.    
Demikan yang bisa Penulis sampaikan jika ada salah kata, kalimat dan tata bahasa penulis mohon maaf. Semoga bermanfaat.

           


Lampiran








  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar