Nama : Renny Sulistyowati
Kelas : 1 B
Jurusan : Perbankan Syariah
Mata
Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
NARASI RESET MASJID
WISANGGENI
Mulyosari RT 02/ RW 03,
Trangsan, Gatak, Sukoharjo
“Seorang Camdikia Pendiri
Masjid”
PENDAHULUAN
Pada tanggal 22
Oktober 2017, penulis datang ke masjid untuk observasi dan mencari informasi
mengenai cikal bakal berdirinya dan berbagai hal mengenai masjid tersebut.
Penulis datang ke Masjid Wisanggeni yang beralamatkan di Desa Mulyosari RT 02/
RW 03 Trangsan, Gatak, Sukoharjo tepatnya di seberang Desa penulis. Penulis
memilih masjid di seberang desanya karena menurut penulis masjid tersebut
memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh masjid masjid yang lain.
Hal ini membuat daya tarik si penulis untuk melakukan observasi dan mencari
informasi mengenai cikal bakal berdirinya dan berbagai hal mengenai masjid
tersebut. Keunikan yang menjadi daya tarik penulis untuk melakukan observasi
terdapat pada cikal bakal berdirinya masjid tersebut.
Setelah sampai di
Masjid Wisanggeni penulis menemui salah satu ta’mir yang ada di Masjid
tersebut. Beliau sangat ramah dan
menyambut kedatangan penulis dengan tangan terbuka. Beliau bernama Bapak Sumadi.
Penulis melakukan wawancara dengan Bapak Sumadi karena beliau sebagai ta’mir di
Masjid Wisanggeni, beliau juga menjabat sebagai ketua RW 03 di Desa Mulyosari,
dimana disana adalah tempat berdirinya Masjid Wisanggeni tersebut.
Bapak Sumadi
adalah orang yang ramah, suka berbagi dan sangat di segani bahkan di sukai oleh
banyak warga Desa Mulyosari. Terlihat ketika penulis mewawancarai beliau,
beliau membawakan rambutan hasil panen dari tanaman depan rumahnya. Beliau
mempunyai anak perempuan semata wayang dan satu cucu. Suami dari anak
perempuanya sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu. Beliau tinggal
bersama dengan istri, anak dan cucunya di desa Mulyosari RT 02 RW 03, Trangsan,
Gatak, Sukoharjo
.
PEMBAHASAN
v Gambaran
Umum Masjid Wisanggeni
Masjid
Wisanggeni terletak di Desa Mulyosari RT 02/ RW 03 Trangsan, Gatak, Sukoharjo.
Masjid ini letaknya sangat strategis terletak di pinggir jalan raya. Jadi,
untuk para pengendara kendaraan yang mau istirahat karena ngantuk bisa di
Masjid Wisanggeni sekalian beribadah. Luas tanah Masjid Wisanggeni secara
pastinya Penulis dan Bapak Sumadi kurang tahu, karena Masjid tersebut satu
pekarangan dengan rumah sang pendiri. Luas bangunan Masjid Wisanggeni sebesar
200 M. Masjid Wisanggeni di cat dengan warna cream dan di tambah cat warna
hijau di bagian ruang dalamnya. Bentuk bangunan masjid ini kotak dengan kubah
cukup besar, lantai keramik warna cokelat kayu dan lampu masjid di ruang utama
modelnya lampu gantung yang banyak pernak perniknya. Hal ini yang memberi kesan
masjid begitu mewah.
Masjid
ini berlantai dua, lantai pertama biasanya yang sering dipakai untuk sholat
jamaah, jika lantai pertama penuh biasanya sampai ke lantai dua. Di masjid ini
ada dua kamar mandi untuk perempuan sendiri dan laki laki sendiri. Demi
kenyamanan jamaah Masjid Wisanggeni ini mempunyai beberapa fasilitas penunjang
seperti kipas angin dan AC. Kipas angin
yang besar ada empat berada di sisi sisi ruangan masjid dan AC nya juga ada
empat, lantai atas dan lantai bawah ada. Mukenanya juga banyak bagi para wanita
yang enggak membawa mukena, boleh pinjam di Masjid. Bagi laki laki yang lupa
tidak membawa sarung bisa meminjam di masjid. Tikarnya juga banyak ada sekitar
empat puluhan tikar di masjid ini. Sajadah juga sudah di siapkan oleh pihak
masjid. Di masjid ini menyediakan sekitar enam puluhan Al Quran bagi para
jamaah yang ingin membaca sesudah sholat atau yang lainnya. Di samping masjid
terdapat rumah joglo, rumah ini biasanya di di gunakan sebagai tempat
pertemuan.
v Kondisi
Masjid dan lingkungan di sekitar masjid Wisanggeni
Keadaan
Masjid Wisanggeni sampai saat ini terlihat bagus, lantai keramiknya bersih,
masih kokoh bangunannya, tidak ada tanda tanda bangunan rapuh, warna catnya
juga masih bagus dan nyaman untuk beribadah. Dulu masyarakat di sekitar Masjid
Wisanggeni banyak orang orang awam, yang sholatnya masih kadang kadang, lalu
setelah didirikannya masjid ini sekarang masyarakat di sekitar masjid banyak
yang beribadah. Subuh itu sampai tujuh shof jamaahnya. Satu shofnya itu bisa
sampai kurang lebih tujuh belas orang. Biasanya wanita tiga shof dan laki laki
empat shof kalau subuh. Pada hari jumat ada sekitar empat ratusan lebih jamaah.
Kendaraan dan mobil mobil banyak sekali yang datang untuk sholat berjamaah di
masjid ini. Lantai atas dan bawah semua terisi sampai depan masjid ini penuh.
v Sejarah
Pendirian Masjid Wisanggeni
Masjid
ini diberi nama Masjid Wisanggeni oleh pendirinya. Beliau bernama Pak Pur. Nama
lengkapnya adalah Hadi Purnomo Wisanggeni. Kata Wisanggeni didapatkan Pak Pur
ketika pergi ke Arab Saudia untuk menjalankan salah satu perintah Allah SWT
yaitu umroh. Pak Pur diberi keterangan tenttang Wasiun Ghoniun. Wasiun Ghoniun
yang artinya “Sing sugeh tur berbudi bawasana”. Hal itu yang membuat Pak Pur
memberi nama Masjid Wisanggeni yang mempunyai arti sangat bagus. Tak disangka
ternyata Pak Pur dulunya adalah seorang camdikia yang kaya raya. Tapi waktu Pak
Pur mendirikan Masjid ini sudah bersih. Maksudnya harta harta yang di hasilkan
dari camdikia itu sudah habis. Sekarang Pak Pur prihatinnya luar biasa
maksudnya dia melakukan perintah Allah SWT yang hukumnya sunnah. Padahal di era
sekarang sangatlah susah bagi seseorang untuk melakukannya tidak sembarang
orang bisa melaksanakan perintah sunnah apalagi Pak Pur yang latar belakangnya adalah
seorang Camdikia. Dengan niat lillahita’ala perintah sunnah yang dilakukan Pak
Pur sama sekali tidak membebani malahan semua itu menyenangkan dan bermanfaat
baginya. Di sisi rohani dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan di sis
kesehatan pun dapat. Pak Pur puasa satu tahun penuh, puasa senin kamis. Pak Pur
juga melakukan wiridan dan dzikir dari jam dua sampai setengah empat pagi. Masjid
ini berdiri pada pertengahan bulan puasa pada tahun 2015. Dana yang di
keluarkan Pak Pur untuk mendirikan Masjid ini kurang lebih satu milyar. Pak Pur
mengundang Gubernur Jawa tengah untuk
mengesahkan masjidnya dan mengundang Habib syech untuk mengisi pengajian. Jadi
recananya hari itu adalah pengesahan dan pengajian. Sebenarnya Masjid di sahkan
oleh gubernur jawa tengah tetapi beliau tidak dapat hadir karena beliau di
panggil ke Jakarta oleh Pak Presiden. Kemudian di ganti oleh Habib Syech karena
pada saat itu beliau juga mengisi pengajian di Masjid tersebut.
v Tanggapan
Masyarakat di Sekitar Masjid Wisanggeni
Tanggapan
masyarakat di sekitar masjid sangat senang, masyarakat lebih maju. Warganya
setiap selapan dina sekali sehabis
minggu pon mendapat beras dari Pak Pur. Setiap bulannya mendapat beras empat
kilogram yang sudah di data oleh beliau. Setiap subuh juga mendapat beras bagi
yang datang ke masjid ini.
Intinya
semenjak didirikannya Masjid, masyarakat di sekitar masjid menjadi lebih rajin
ibadahnya. Di sisi ekonomi, masyarakat semakin maju karena setiap hari tertentu
Pak Pur membagi bagikan beras bagi masyarakat yang kurang mampu. Dan ketika ada
masyarakat di sekitar masjid sakit ada santunan dari masjid tersebut. Santunan
itu dari kotak amal di Masjid Wisanggeni.
v Pendapat
Penulis
Dari
penjelasan di atas menurut Penulis seseorang itu dapat berubah menjadi lebih
baik dan tidak ada kata sia sia atau terlambat bagi sesorang yang ingin menjadi
lebih baik. Allah maha pengasih dan penyayang bagi umatnya yang benar benar
ingin menjadi lebih baik. Semua itu tergantung pada individu, bagaimana
niatnya, Komitmennya untuk tidak kembali lagi ke masa lalu, motivasi dirinya
sendiri, serta memberi hadiah kepada diri sendiri ketika dapat melakukan hal
yang baik sekecil apapun itu.
v Kegiatan
di Masjid Wisanggeni
Setiap
hari jumat masjid ini selalu banyak jamaahnya sampai pengurus masjid
menyediakan tikar di pelantaran depan masjid sekitar empat ratusan jamaah jumat
yang ada di setiap jumatnya. Pak Pur juga menyediakan makanan dan minuman bagi
jamaah jumat anggarannya sekitar dua juta ribu rupiah setiap jumatnya.
Setiap
sore hari biasanya masjid ini di gunakan untuk kegiatan TPA bagi anak anak di
desa sekitar masjid dan di buka untuk umum. Kegiatan TPA ini di lakukan seetiap
hari mulai dari jam lima sore hingga jam tujuh ba’da isya’. Mengjelang magrib
anak anak biasnya ngaji terlebih dahulu sambil menunggu adzan magrib. Jika
sudah adzan magrib anak anak sholat magrib berjamaah di masjid tersebut.
Setalah sholat magrib di lanjutkan ngaji lagi sampai adzan isya’. Setelah adzan isya’ anak anak sebelum pulang
sholat isya’ jamaah terlebih dahulu. Pak Pur juga memberikan uang bagi setiap
anak yang TPA di masjid ini. Setiap anaknya diberi lima ribu rupiah, selain
mendapatkan ilmu agama anak anak juga mendapatkan uang. Tujuan Pak Pur
memberikan uang kepada anak anak yang TPA agar lebih semangat lagi belajarnya.
Selain
itu masjid ini juga ada pengajian rutin, Pak Pur biasanya menyewa dua puluh
sepur kelinci untuk di kirimkan ke desa desa bagi orang orang yang ingin
pengajian di Masjid Wisanggeni tanpa di pungut biaya alias gratis. Pengajian
ini bersifat umum bagi siapa saja, tidak memandang aliran muhammadiyah, NU,
MTA, LDII dan lain sebagainya. Karena menurut Pak Pur semua agama islam itu
sama, yang dibaca juga Al Quran, sama sama juga menyembah Allah SWT.
v Memperjelas
Pemahaman
Untuk
memperjelas pemahaman penulis memberikan contoh seperti besi yang jatuh di
genangan air. Jika tidak cepat cepat di ambil maka besi itu akan menjadi
berkarat dan semakin berkarat. Tetapi jika langsung diambil tanpa memperdulikan
besi tersebut bagaimana jadinya ke depan maka akan lebih baik. Maksudnya jika
mengambilnya dan merawatnya walaupun sudah berkarat, karatan itu akan dapat
hilang.
v Refleksi
Dari
hasil observasi yang di lakukan penulis menemukan sejarah berdirinya masjid
yang berbeda dengan masjid masjid yang lain. Penulis mengambil sejarah
berdirinya masjid ini sebagai keunikan karena sejarah berdirinya berhubungan
dengan islamiyah. Setiap masjid mempunyai sejarah tersendiri dan ciri khas yang
tudak di miliki oleh masjid lain.
v Penutup
Alhamdulillah
penulis ucapkan karena semua hal yang unik dan menarik di Masjid Wisanggeni ini
telah di bahas di rangkuman di atas. Penulis hanya ingin mengingatkan bahwa
menilai seseorang itu jangan dari masa lalunya. Karena di masa sekarang
seseorang itu sudah berubah. Dan jangan perpikiran bahwa latar belakang
seseorang itu mempengaruhi semuanya. Dan mengolok ngolok kejadian atau kesalah
seseorang di masa lalu. Karena kita tidak pernah tahu mengapa seseorang
melakukan kesalahan itu.
Jadi
berpikirlah positif saja, selagi itu baik dan tidak melangagar perintah Allah
SWT dukunglah dan genggam tangan seseorang itu agar lebih yakin bahwa
seseoranmg itu bisa dan belum terlambut untuk menjadi lebih baik. Jangan malah
kita olok olok itu akan membuat seseorang itu menjadi jadi karena seseorang iu
merasa tidak di hargai. Maka hargailah tindakan seseorang yanng baik sekecil
apapun itu. Dan jangan terlalu fokus ke kesalahan masa lalu da tidak kata
terlambat. Contohnya seperti Pak Pur. Beliau dulunya adalah seorang candikiawan
tetapi tidak di sangka dengan niat lillahita’ala ingin berubah menjadi lebih
baik kini beliau berhasil dan bahkan beliau mendirikan Masjid Wisanggeni yang
terletak di Desa Mulyosari RT 02 RW 03 Trangsan, Gatak, Sukoharjo.
Pesan
dari penulis, bagi para penghijrah tetap semangat, jangan putus asa dan jangan
di masukan ke hati omongan omongan orang orang yanga ada di sekitar kalian.
Karena mereka belum tentu baik di banding orang yang mereka olok olok.
Demikan
yang bisa Penulis sampaikan jika ada salah kata, kalimat dan tata bahasa
penulis mohon maaf. Semoga bermanfaat.
Lampiran

Tidak ada komentar:
Posting Komentar